RSS Feed

Profil Puskesmas

Data Umum Puskesmas Sadang

Luas wilayah 5.713 Ha berupa dataran tinggi dan pegunungan dengan ketinggian  berkisar 73,00-467,00 mdpl.Daerah ini terletak disebelah  utara  dari Pusat Pemerintahan  Kota Kabupaten Kebumen pada 7°28’3″ – 7°28’0″ LS, 109°35’5″ – 109°42’5″ BT . Jarak  dari  pusat  kota  ke Sadang sekitar 30,00 Km yang dapat ditempuh melalui jalan darat  beraspal hotmix. Jumlah penduduk 22,670  orang yang  terdiri  dari   laki-laki 11,420 orang dan perempuan 11,250 orang. Mata pencaharian mayoritas penduduk adalah petani dan sebagian menjadi buruh sadap getah pinus pada areal hutan yang cukup luas di Kecamatan Sadang (1.832 Ha) dan sebagian yang lain menjadi buruh luar kota.Seiring  bertambahnya  jumlah  penduduk  dan himpitan ekonomi maka  arus urbanisasi  semakin banyak  sehingga berpengaruh kepada  program-program kesehatan terutama pada program KIA dan PMK yaitu cukup banyak para ibu yang  pulang  kerumah  ketika  akan melahirkan saja,pekerja buruh luar kota  yang  pulang  dalam  keadaan sakit.

Dari beberapa kasus yang ditemukan ternyata ada yang menderita DBD dan Typoid.Daerah Kecamatan Sadang dahulu dikenal merupakan daerah endemis malaria sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen berupaya semaksimal mungkin untuk memberantas penyakit malaria ini. Hal ini dapat dilihat dari  upaya  Promotip  sampai  dengan  pemutaran  film, upaya Preventip dengan membagikan kelambu gratis dan  penyemprotan, upaya Kuratip dengan pengobatan bagi  penderita Malaria.  Kondisi  masyarakat sekarang semakin baik berkat kesadaran  melakukan PSN  walaupun  masih ada penderita positip malaria tetapi hanya satu dua,hal ini mungkin terjadi akibat vektor penyakitnya tidak dapat diberantas dengan tuntas karena wilayah kerja Puskesmas Sadang sebagian besar dikelilingi oleh hutan.

Batas Wilayah Kerja Puskesmas Sadang

Sebelah Utara      :  Kab.Banjarnegara
Sebelah Timur      :  Kab.Wonosobo
Sebelah Sealatan   :  Kec. Alian
Sebelah Barat      :  Kec. Karangsambung

Wilayah  Kerja Puskesmas Sadang Terdiri dari desa-desa:

Pucangan
Seboro
Wonosari
Sadangkulon
Sadangwetan
Cangkring
Kedunggong

    DATA SARANA KESEHATAN

    DATA SARANA KESEHATAN

    No Desa Puskesmas Pembantu Polindes Pusling Posyandu
    1 Pucangan 1 1 5
    2 Seboro 1 1 2 8
    3 Wonosari 1 1 3
    4 Sadangkulon 1 4
    5 Cangkring 1 5
    6 Sadangwetan 1 1 3
    7 Kedunggong 1 4

    DAFTAR URUT KEPANGKATAN PUSKESMAS SADANG

    DAFTAR URUT KEPANGKATAN PUSKESMAS SADANG

    No Nama NIP/NRPTT L/P Gol Jabatan
    1 drg. Iramadi 19591219 199203 1 003 x IIId Ka. Puskesmas
    2 Yudi Atmaka, SH, M. Si 19730827 199502 1 001 L IIIb Ka. Sub Bag TU
    3 dr. Jen Alif Latifah 19760127 201001 2 007 P IIIb Dokter Umum
    4 drg. Yeni Aliana 19810627201001 2 032 P IIIb Dokter Gigi
    5 Wiprasetyono 19681216 198903 1 006 L IIIb Perawat
    6 Sudharjanto 140 229 969 L IIIa Perawat
    7 R. Hendradi S, A. Md. KL 19730718 199903 1 006 L IId Sanitarian
    8 Tutut Mustikawati, A. Md. Kep 19790421 200501 2 021 P IId Perawat
    9 Ismiatul Khoeriah, A. Md. Keb 19820326 200501 2 005 P IId Bidan
    10 Puji Rahayu, a. Md. Keb 19771109 200701 2 008 P IId Perawat
    11 Tutur Purwaningsih, A. Md. Keb 19781027 200701 2  006 P IId Perawat
    12 Emy Yulaikha, A. Md. Keb 19750714 200604 2 006 P IIc Bidan
    13 Suripah, A. Md. Keb 19810723 200801 2 010 P IIc Perawat
    14 Ratna Adhie Tyas, A. Md. Keb 19790308 200801 2 008 P IIc Bidan
    15 Rina Yuniarti, A. Md. Keb 19850614 200903 2 007 P IIIc Bidan
    16 Tutik Sugiarti, A. Md. Keb 19880602 201001 2 020 P IIc Bidan
    17 Hermawan Setiadi, AM. Kg 19860922 201001 1 013 L IIc Perawat Gigi
    18 Zuzina Rahmawati, A. Md. Gz 19860104 201001 2 021 P IIc Gizi
    19 Vendy Kusdarianto, A. Md. AK 19861127 201001 1 016 L IIc Analis
    20 Muslimatun Miskiyah 19760105 200701 2 009 P IIb Bidan
    21 Suryandari 19761010 200701 2 016 P IIb Bidan
    22 Susiyanti 19740412 200701 2 019 P IIb Bidan
    23 Fajar Kartika 19770520 200501 2 017 P IIa Bidan
    24 Danti, A. Md. Keb 11.4.047.11545 P Bidan
    25 F. Rini Kukuh  H, A. Md. Keb 11.4.048.5345 P Bidan
    26 Umi Hidayah 11.4.047.8586 P Bidan
    27 Nur Fitriyani 11.4.048.17593 P Bidan
    28 Endang Hartati P Wiyata Bakti Administrasi
    29 Siti Khasanah, A. Md. KL P Wiyata Bakti sanitarian
    30 Dwi Apriani, A. Md. Kep P Wiyata Bakti perawat
    31 Haryanto L Wiyata Bakti JMD
    32 Roni L Wiyata Bakti Sopir

    AIDS (ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME)

    AIDS

    (ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME)

    I. Pendahuluan

    AIDS pertama kali ditemukan oleh  Gottlieb di Amerika Serikat pada tahun 1981 dan virusnya ditemukan oleh Luc Montagnier pada tahun 1983. Penyakit kelamin Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan suatu syndrome/kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh retrovirus HIV yang menyerang sistem kekebalan atau pertahanan tubuh. Dengan rusaknya sistem kekebalan tubuh, maka orang yang terinfeksi mudah diserang penyakit-penyakit lain yang berakibat fatal yang dikenal dengan infeksi oportunistik.

    Penyakit AIDS dewasa ini telah terjangkit dihampir setiap negara didunia (pandemi), termasuk diantaranya Indonesia. Hingga November 1996 diperkirakan telah terdapat sebanyak 8.400.000 kasus didunia yang terdiri dari 6,7 juta orang dewasa dan 1,7 juta anak-anak. Di Indonesia berdasarkan data-data yang bersumber dari Direktorat Jenderal P2M dan PLP Departemen Kesehatan RI sampai dengan 1 Mei 1998 jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 685 orang yang dilaporkan oleh 23 propinsi di Indonesia. Data jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia pada dasarnya bukanlah merupakan gambaran jumlah penderita yang sebenarnya. Pada penyakit ini berlaku teori “Gunung Es“ dimana penderita yang kelihatan hanya sebagian kecil dari yang semestinya. Untuk itu WHO mengestimasikan bahwa dibalik 1 penderita yang terinfeksi telah terdapat kurang lebih 100-200 penderita HIV yang belum diketahui.

    Informasi yang didapat dari  http://www.kebumekab.go.id, 23 mei 2011 kasus HIV/AIDS dikabupaten Kebumen mengalami peningkatan setiap tahunnya dari 68 kasus di tahun 2010 hingga maret 2011 mengalami peningkatan hingga 79 kasus. Meski mengalami peningkatan setiap tahunnya namun fenomena khas HIV/AIDS di Kebumen merupakan fenomena gunung es dimana jumlah kasus sesungguhnya dimungkinkan lebih banyak dari kasus yang sudah terdeteksi. Sedangkan website resmi bkkbn,www.bkkbn.go.id, pada tanggal 25 Mei 2010 menyebutkan sejak tahun 2003 hingga 15 Mei 2010 telah tercatat 51 kasus dengan 61% penderita adalah kaum laki-laki. Kasus HIV/AIDS diKebumen telah merenggut 25 nyawa penderitanya. Sebagian besar penularan HIV/AIDS di Kebumen paling banyak melalui hubungan seksual dengan lawan jenis (78%), berikutnya penularan ibu kepada bayinya (11%) serta hubungan sesame jenis dan penggunaan jarum suntik narkoba (IDU), masing-masing 6%. Dilihat dari usia, penderita umur 25-29 tahun paling banyak (31%), umur 35-39 tahun (18%) dan 6% diderita bayi usia 0-4 tahun.

    Penyakit AIDS telah menjadi masalah internasional karena dalam waktu singkat terjadi peningkatan jumlah penderita dan  melanda semakin banyak negara. Dikatakan pula bahwa epidemi yang terjadi tidak saja mengenai penyakit (AIDS ), virus (HIV) tetapi juga reaksi/dampak negatif berbagai bidang seperti kesehatan, sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan demografi. Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi baik oleh negara maju maupun negara berkembang. Sampai saat ini obat dan vaksin yang diharapkan dapat membantu memecahkan masalah penanggulangan HIV/AIDS belum ditemukan. Salah satu alternatif dalam upaya menanggulangi problematik jumlah penderita yang terus meningkat adalah upaya pencegahan yang dilakukan semua pihak yang mengharuskan kita untuk tidak terlibat dalam lingkungan transmisi yang memungkinkan dapat terserang HIV.

    II. PENGERTIAN AIDS

    Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah Syndrome akibat defisiensi immunitas selluler tanpa penyebab lain yang diketahui, ditandai dengan infeksi oportunistik keganasan berakibat fatal. Munculnya Syndrome ini erat hubungannya dengan berkurangnya zat kekebalan tubuh yang prosesnya tidaklah terjadi seketika melainkan sekitar 5-10 tahun setelah seseorang terinfeksi HIV. Berdasarkan hal tersebut maka penderita AIDS dimasyarakat digolongkan kedalam 2 kategori yaitu :
    1. Penderita yang mengidap HIV dan telah menunjukkan gejala klinis (penderita AIDS positif).
    2. Penderita yang mengidap HIV, tetapi belum menunjukkan gejala klinis (penderita AIDS negatif).
    Menurut Suensen (1989) terdapt 5-10 juta HIV positif yang dalam waktu 5-7 tahun mendatang diperkirakan 10-30% diantaranya menjadi penderita AIDS. Pada tingkat pandemi HIV tanpa gejala jauh lebih banyak dari pada penderita AIDS itu sendiri. Tetapi infeksi HIV itu dapat berkembang lebih lanjut dan menyebabkan kelainan imunologis yang luas dan gejala klinik yang bervariasi. AIDS merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena mempunyai case fatality rate 100%  dalam 5 tahun setelah diagnosa AIDS  ditegakkan, maka semua penderita akan meninggal.

    III. ETIOLOGI AIDS

    Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi oleh Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di Amerika Serikat pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas kesepakatan internasional pada tahun 1986 nama firus dirubah menjadi HIV. Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4. Didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut.
    Secara mortologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic Acid). Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis prosein. Bagian selubung terdiri atas lipid dan glikoprotein (gp 41 dan gp 120). Gp 120 berhubungan dengan reseptor Lymfosit (T4) yang rentan. Karena bagian luar virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah dimatikan dengan berbagai disinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium hipoklorit dan sebagainya, tetapi telatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet.  Virus HIV hidup dalam darah, savila, semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV dapat juga ditemukan dalam sel monosit, makrotag dan sel glia jaringan otak.

    IV. MASA INKUBASI AIDS

    Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak seseorang terpapar virus HIV sampai dengan menunjukkan gejala-gejala AIDS. Waktu yang dibutuhkan rata-rata cukup lama dan dapat mencapai kurang lebih 12 tahun dan semasa inkubasi penderita tidak  menunjukkan gejala-gejala sakit. Selama masa inkubasi ini penderita disebut penderita HIV. Pada fase ini terdapat masa dimana virus HIV tidak dapat terdeteksi dengan pemeriksaan laboratorium kurang lebih 3 bulan sejak tertular virus HIV yang dikenal dengan “masa window periode”. Selama masa inkubasi penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang lain dengan  berbagai cara sesuai pola transmisi virus HIV. Mengingat masa inkubasi yang relatif lama, dan penderita HIV tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, maka sangat besar kemungkinan penularan terjadi pada fase inkubasi ini.

    V. EPIDEMIOLOGI AIDS

    Sindroma AIDS pertama kali dilaporkan oleh Gottlieb dari Amerika pada tahun 1981. Sejak saat itu jumlah negara yang melaporkan kasus-kasus AIDS meningkat dengan cepat. Dewasa ini penyakit HIV/AIDS telah merupakan pandemi, menyerang jutaan penduduk dunia, pria, wanita, bahkan anak-anak. WHO memperkirakan bahwa sekitar 15 juta orang diantaranya 14 juta remaja dan dewasa terinfeksi HIV. Setiap hari 5000 orang ketularan virus HIV. Menurut etimasi WHO pada tahun 2000 sekitar 30-40 juta orang terinfeksi virus HIV, 12-18 juta orang akan menunjukkan gejala-gejala AIDS dan setiap tahun sebanyak 1,8 juta orang akan meninggal karena AIDS. Pada saat ini laju infeksi (infection rate) pada wanita jauh lebih cepat dari pada pria. Dari seluruh infeksi, 90% akan terjadi di negara berkembang, terutama Asia.

    CARA PENULARAN

    Secara umum ada 5 faktor yang perlu diperhatikan pada penularan suatu penyakit yaitu:

    1. sumber infeksi,
    2. vehikulum yang membawa agent,
    3. host yang rentan,
    4. tempat keluar kuman
    5. dan tempat masuk kuman (port’d entrée).

    Virus HIV sampai saat ini terbukti hanya menyerang sel Lymfosit T dan sel otak sebagai organ sasarannya. Virus HIV sangat lemah dan mudah mati diluar tubuh. Sebagai vehikulum yang dapat membawa virus HIV keluar tubuh dan menularkan kepada orang lain adalah berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh yang terbukti menularkan diantaranya semen, cairan vagina atau servik dan darah penderita.

    Banyak cara yang diduga menjadi cara penularan virus HIV, namun hingga kini cara penularan HIV yang diketahui adalah melalui :
    1. Transmisi Seksual

    Penularan melalui hubungan seksual baik Homoseksual maupun Heteroseksual merupakan penularan infeksi HIV yang paling sering   terjadi. Penularan ini berhubungan dengan semen dan cairan vagina atau serik. Infeksi dapat ditularkan dari setiap pengidap infeksi HIV kepada pasangan seksnya. Resiko penularan HIV tergantung pada pemilihan pasangan seks, jumlah pasangan seks dan jenis hubungan seks. Pada penelitian Darrow (1985) ditemukan resiko seropositive untuk zat anti terhadap HIV cenderung naik pada hubungan seksual yang dilakukan pada pasangan tidak tetap. Orang yang sering berhubungan seksual dengan berganti pasangan merupakan kelompok manusia yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV.

    1.1. Homoseksual

    Didunia barat, Amerika Serikat dan Eropa tingkat promiskuitas homoseksual menderita AIDS, berumur antara 20-40 tahun dari semua golongan rusial. Cara hubungan seksual anogenetal merupakan perilaku seksual dengan resiko tinggi bagi penularan HIV,   khususnya bagi mitra seksual yang pasif menerima ejakulasi semen dari seseorang pengidap HIV. Hal ini sehubungan dengan mukosa rektum yang sangat tipis dan mudah sekali mengalami pertukaran pada saat berhubungan secara anogenital.

    1.2. Heteroseksual

    Di Afrika dan Asia Tenggara cara penularan utama melalui hubungan heteroseksual pada promiskuitas dan penderita terbanyak adalah kelompok umur seksual aktif baik pria maupun wanita yang mempunyai banyak pasangan dan berganti-ganti.

    2. Transmisi Non Seksual

    2.1 Transmisi Parenteral

    2.1.1. Yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya (alat tindik) yang telah terkontaminasi, misalnya pada penyalah gunaan narkotik suntik yang menggunakan jarum suntik yang tercemar secara bersama-sama. Disamping dapat juga terjadi melaui jarum suntik yang dipakai oleh petugas kesehatan tanpa disterilkan terlebih dahulu. Resiko tertular cara transmisi parental ini kurang dari 1%.

    2.1.2. Darah/Produk Darah
    Transmisi melalui transfusi atau produk darah terjadi di negara-negara barat sebelum tahun 1985. Sesudah tahun 1985 transmisi melalui jalur ini di negara barat sangat jarang, karena darah donor telah diperiksa sebelum ditransfusikan. Resiko tertular infeksi/HIV lewat trasfusi darah adalah lebih dari 90%.

    2.2. Transmisi Transplasental

             Penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak mempunyai resiko sebesar 50%. Penularan dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan dan sewaktu menyusui. Penularan melalui air susu ibu termasuk penularan dengan resiko rendah.

    VI. PATOGENESIS

             Dasar utama patogenesis HIV adalah kurangnya jenis limposit T helper/induser yang mengandung marker CD 4 (sel T 4). Limfosit T 4 merupakan pusat dan sel utama yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menginduksi fungsi-fungsi imunologik. Menurun atau hilangnya sistem imunitas seluler, terjadi karena HIV secara selektif menginfeksi sel yang berperan membentuk zat antibodi pada sistem kekebalan tersebut, yaitu sel lymfosit T4. Setelah HIV mengikat diri pada molekul CD 4, virus masuk kedalam target dan ia melepas bungkusnya kemudian dengan enzym reverse transcryptae ia merubah bentuk RNA agar dapat bergabung dengan DNA sel target. Selanjutnya sel yang berkembang biak akan mengundang bahan genetik virus. Infeksi HIV dengan demikian menjadi irreversibel dan berlangsung seumur hidup.
    Pada awal infeksi, HIV tidak segera menyebabkan kematian dari sel yang di infeksinya tetapi terlebih dahulu mengalami replikasi (penggandaan), sehingga ada kesempatan untuk berkembang dalam tubuh penderita tersebut, yang lambat laun akan menghabiskan atau merusak sampai jumlah tertentu dari sel lymfosit T4. Setelah beberapa bulan sampai beberapa tahun kemudian, barulah pada penderita akan terlihat gejala klinis sebagai dampak dari infeksi HIV tersebut. Masa antara terinfeksinya HIV dengan timbulnya gejala-gejala penyakit (masa inkubasi) adalah 6 bulan sampai lebih dari 10 tahun, rata-rata 21 bulan pada anak-anak dan 60 bulan pada orang dewasa.
    Infeksi oleh virus HIV menyebabkan fungsi kekebalan tubuh rusak yang mengakibatkan daya tahan tubuh berkurang atau hilang, akibatnya mudah terkena penyakit-penyakit lain seperti penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, protozoa, dan jamur dan juga mudah terkena penyakit kanker seperti sarkoma kaposi. HIV mungkin juga secara langsung menginfeksi sel-sel syaraf, menyebabkan kerusakan neurologis.

    VII. MANIFESTASI KLINIS AIDS

             Tanda-tanda gejala-gejala (symptom) secara klinis pada seseorang penderita AIDS adalah diidentifikasi sulit karena symptomasi yang ditujukan pada umumnya adalah bermula dari gejala-gejala umum yang lazim didapati pada berbagai penderita penyakit lain, namun secara umum dapat kiranya dikemukakan sebagai berikut :
    • Rasa lelah dan lesu
    • Berat badan menurun secara drastis
    • Demam yang sering dan berkeringat diwaktu malam
    • Mencret dan kurang nafsu makan
    • Bercak-bercak putih di lidah dan di dalam mulut
    • Pembengkakan leher dan lipatan paha
    • Radang paru-paru
    • Kanker kulit

    Manifestasi klinik utama dari penderita AIDS pada umumnya ada 2 hal antara lain tumor dan infeksi oportunistik :

    1. Manifestasi Tumor, diantaranya:

    a. Sarkoma kaposi ; kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh. Frekuensi kejadiannya 36-50% biasanya terjadi pada kelompok homoseksual, dan jarang terjadi pada heteroseksual serta jarang menjadi sebab kematian primer.

    b. Limfoma ganas ; terjadi setelah sarkoma kaposi dan menyerang syaraf, dan bertahan kurang lebih 1 tahun.

    2. Manifestasi Oportunistik, diantaranya:

    2.1 Manifestasi pada Paru-paru

    2.1.1. Pneumonia Pneumocystis (PCP)
    Pada umumnya 85% infeksi oportunistik pada AIDS merupakan infeksi paru-paru PCP dengan gejala sesak nafas, batuk kering, sakit bernafas dalam dan demam.

    2.1.2. Cytomegalo Virus (CMV)
    Pada manusia virus ini 50% hidup sebagai komensial pada paru-paru tetapi dapat menyebabkan pneumocystis. CMV merupakan penyebab kematian pada 30% penderita AIDS.

    2.1.3. Mycobacterium Avilum
    Menimbulkan pneumoni difus, timbul pada stadium akhir dan sulit disembuhkan.

    2.1.4. Mycobacterium Tuberculosis
    Biasanya timbul lebih dini, penyakit cepat menjadi miliar dan cepat menyebar ke organ lain diluar paru.

    2.2. Manifestasi pada Gastroitestinal
    Tidak ada nafsu makan, diare khronis, berat badan turun lebih 10% per bulan.

    3. Manifestasi Neurologis
    Sekitar 10% kasus AIDS nenunjukkan manifestasi Neurologis, yang biasanya timbul pada fase akhir penyakit. Kelainan syaraf yang umum adalah ensefalitis, meningitis, demensia, mielopati dan neuropari perifer.

    VIII. PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN DIAGNOSISI AIDS

    Human Immunodefeciency Virus dapat di isolasi dari cairan-cairan yang berperan dalam penularan AIDS seperti darah, semen dan cairan serviks atau vagina. Diagnosa adanya infeksi dengan HIV ditegakkan di laboratoruim dengan ditemukannya antibodi yang khusus terhadap virus tersebut. Pemeriksaan untuk menemukan adanya antibodi tersebut menggunakan metode Elisa (Enzyme Linked Imunosorbent Assay). Bila hasil test Elisa positif maka dilakukan pengulangan dan bila tetap positif setelah pengulangan maka harus dikonfirmasikan dengan test yang lebih spesifik yaitu metode Western Blot.
    Dasar dalam menegakkan diagnosa AIDS adalah :
    1. Adanya HIV sebagai etiologi (melalui pemeriksaan laboratorium).
    2. Adanya tanda-tanda Immunodeficiency.
    3. Adanya gejala infeksi oportunistik.
    Dalam prakteknya yang dipakai sebagai petunjuk adalah infeksi oportunistik atau sarkoma kaposi pada usia muda kemudian dilakukan uji serologis untuk mendeteksi zat anti HIV (Elisa, Western Blot).

    IX. SITUASI AIDS DI INDONESIA

    Pandemi global AIDS telah sampai di Indonesia. Kasus AIDS pertama di Indonesia pada tahun 1987 seorang wisatawan Belanda yang meninggal di Bali pada 1988. Enam tahun kemudian virus HIV telah terdeteksi di sembilan propinsi di Indonesia. Menurut data Ditjen PPM dan PLP Departemen Kesehatan hingga bulan Mei 1998 telah tercatat 685 kasus HIV/ AIDS, diantaranya 184 penderita AIDS dan 501 penderita HIV yang dilaporkan oleh 23 propinsi di Indonesia. Hal ini berarti terjadi peningkatan sebanyak 100 kali sejak tahun 1987 yang pada waktu itu baru tercatat 6 kasus

    X. UPAYA PENCEGAHAN AIDS

    Mengingat sampai saat ini obat untuk mengobati dan vaksin untuk mencegah AIDS belum ditemukan, maka alternatif untuk menanggulangi masalah AIDS yang terus meningkat ini adalah dengan upaya pencegahan oleh semua pihak untuk tidak terlibat dalam lingkaran transmisi yang memungkinkan dapat terserang HIV. Pada dasarnya upaya pencegahan AIDS dapat dilakukan oleh semua pihak asal mengetahui cara-cara penyebaran AIDS.
    Ada 2 cara pencegahan AIDS yaitu jangka pendek dan jangka panjang :
    1. Upaya Pencegahan AIDS Jangka Pendek

    Upaya pencegahan AIDS jangka pendek adalah dengan KIE, memberikan informasi kepada kelompok resiko tinggi bagaimana pola penyebaran virus AIDS (HIV), sehingga dapat diketahui langkah-langkah pencegahannya.
    Ada 3 pola penyebaran virus HIV :

    1. Melalui hubungan seksual
    2. Melalui darah
    3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya

    Ad.1. Pencegahan Infeksi HIV Melaui Hubungan Seksual

    HIV terdapat pada semua cairan tubuh penderita tetapi yang terbukti berperan dalam penularan AIDS adalah mani, cairan vagina dan darah. HIV dapat menyebar melalui hubungan seksual pria ke wanita, dari wanita ke pria dan dari pria ke pria.

    Setelah mengetahui cara penyebaran HIV melaui hubungan seksual maka upaya pencegahan adalah dengan cara :

    • Tidak melakukan hubungan seksual. Walaupun cara ini sangat efektif, namun tidak mungkin dilaksanakan sebab seks merupakan kebutuhan biologis.
    • Melakukan hubungan seksual hanya dengan seorang mitra seksual yang setia dan tidak terinfeksi HIV (homogami)
    • Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin
    • Hindari hubungan seksual dengan kelompok rediko tinggi tertular AIDS.
    • Tidak melakukan hubungan anogenital.
    • Gunakan kondom mulai dari awal sampai akhir hubungan seksual dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS dan pengidap HIV.

    Ad.2. Pencegahan Infeksi HIV Melalui Darah

    Darah merupakan media yang cocok untuk hidup virus AIDS. Penularan AIDS melalui darah terjadi dengan :

    1.  Transfusi darah yang mengandung HIV.
    2. Jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tato, tindik) bekas pakai orang yang mengidap HIV tanpa disterilkan dengan baik.
    3. Pisau cukur, gunting kuku atau sikat gigi bekas pakai orang yang mengidap virus HIV.

    Langkah-langkah untuk mencegah terjadinya penularan melalui darah adalah:

    1.  Darah yang digunakan untuk transfusi diusahakan bebas HIV dengan jalan memeriksa darah donor. Hal ini masih belum dapat dilaksanakan sebab memerlukan biaya yang tingi serta peralatan canggih karena prevalensi HIV di Indonesia masih rendah, maka pemeriksaan donor darah hanya dengan uji petik.
    2. Menghimbau kelompok resiko tinggi tertular AIDS untuk tidak menjadi donor darah. Apabila terpaksa karena menolak, menjadi donor menyalahi kode etik, maka darah yang dicurigai harus di buang.
    3. Jarum suntik dan alat tusuk yang lain harus disterilisasikan secara baku setiap kali habis dipakai.
    4. Semua alat yang tercemar dengan cairan tubuh penderita AIDS harus disterillisasikan secara baku.
    5. Kelompok penyalahgunaan narkotik harus menghentikan kebiasaan penyuntikan obat ke dalam badannya serta menghentikan kebiasaan mengunakan jarum suntik bersama.
    6. Gunakan jarum suntik sekali pakai (disposable)
    7. Membakar semua alat bekas pakai pengidap HIV.

    Ad.3. Pencegahan Infeksi HIV Melalui Ibu

    Ibu hamil yang mengidap HIV dapat memindahkan virus tersebut kepada janinnya. Penularan dapat terjadi pada waktu bayi di dalam kandungan, pada waktu persalinan dan sesudah bayi di lahirkan. Upaya untuk mencegah agar tidak terjadi penularan hanya dengan himbauan agar ibu yang terinfeksi HIV tidak hamil.

    2. Upaya Pencegahan AIDS Jangka Panjang

    Penyebaran AIDS di Indonesia (Asia Pasifik) sebagian besar adalah karena hubungan seksual, terutama dengan orang asing. Kasus AIDS yang menimpa orang Indonesia adalah mereka yang pernah ke luar negeri dan mengadakan hubungan seksual dengan orang asing.
    Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiko penularan dari suami pengidap HIV ke istrinya adalah 22% dan istri pengidap HIV ke suaminya adalah 8%. Namun ada penelitian lain yang berpendapat bahwa resiko penularan suami ke istri atau istri ke suami dianggap sama. Kemungkinan penularan tidak terganggu pada frekuensi hubungan seksual yang dilakukan suami istri. Mengingat masalah seksual masih merupakan barang tabu di Indonesia, karena norma-norma budaya dan agama yang masih kuat, sebetulnya masyarakat kita tidak perlu risau terhadap penyebaran virus AIDS. Namun demikian kita tidak boleh lengah sebab negara kita merupakan negara terbuka dan tahun 1991 adalah tahun melewati Indonesia. Upaya jangka panjang yang harus kita lakukan untuk mencegah merajalelanya AIDS adalah merubah sikap dan perilaku masyarakat dengan kegiatan yang meningkatkan norma-norma agama maupun sosial sehingga masyarakat dapat berperilaku seksual yang bertanggung jawab.
    Yang dimaksud dengan perilaku seksual yang bertanggung jawab adalah :
    a. Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali.
    b. Hanya melakukan hubungan seksual dengan mitra seksual yang setia dan tidak terinfeksi HIV (monogamy).
    c. Menghindari hubungan seksual dengan wanita-wanita tuna susila.
    d. Menghindari hubungan seksual dengan orang yang mempunyai lebih dari satu mitra seksual.
    e. Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin.
    f. Hindari hubungan seksual dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS.
    g. Tidak melakukan hubungan anogenital.
    h. Gunakan kondom mulai dari awal sampai akhir hubungan seksual.

    Kegiatan tersebut dapat berupa dialog antara tokoh-tokoh agama, penyebarluasan informasi tentang AIDS dengan bahasa agama, melalui penataran P4 dan lain-lain yang bertujuan untuk mempertebal iman serta norma-norma agama menuju perilaku seksual yang bertanggung jawab. Dengan perilaku seksual yang bertanggung jawab diharapkan mampu mencegah penyebaran penyakit AIDS di Indonesia.

    KESIMPULAN

    AIDS merupakan masalah kesehatan internasional yang perlu segera ditanggulangi. AIDS berkembang secara pandemi hampir di setiap negara di Dunia, termasuk Indonesia. Epidemi yang terjadi meliputi penyakit (AIDS), virus (HIV) dan epidemi reaksi / dampak negatif diberbagai bidang seperti kesehatan, sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, dan demografi. Sampai saat ini obat dan vaksin untuk menaggulangi AIDS belum ditemukan. Untuk itu alternatif lain yang lebih mendekati dalam upaya pencegahan. Upaya pencegahan dapat dilakukan oleh semua pihak asal mengetahui cara-cara penularan AIDS. Penularan AIDS terjadi melalui hubungan seksual, parental dan transplasental, sehingga upaya pencegahan perlu diarahkan untuk merubah perilaku seksual masyarakat (terutama yang memiliki resiko tinggi), menghindari infeksi melalui donor darah, dan upaya pencegahan infeksi perinatal sebelum ibu hamil. Perubahan perilaku  dilakukan dengan penyuluhan kesehatan.